Dakwah

Software Download Computer Tips
Selamat Datang, Semoga Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah untuk kita semua

Mungkin Tidak segera tapi pasti.

05.54 / Diposting oleh Bambang Achdiat /


Abang, panggilan anak laki-laki ini. Tahun 2007 ayahnya mendapatkan kursi haji menggantikan kursi neneknya yang meninggal yang rencana berangkat 2008. Ini hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa ayahnya bisa ke tanah suci. Tapi jatahnya hanya 1 kursi. Anak laki-laki itu pun kemudian mendoakan setiap hari dengan khusyu agar ibunya bisa menyertai ayahnya ke tanah suci tahun 2008. Seiring perjalannan waktu ia mendoakan ibunya ke tanah suci, rupanya Allah menanamkan keinginan pada dirinya untuk juga meminta agar dirinya juga bisa ke tanah suci, seakan-akan Allah ingin mengatakan, “ko kamu minta untuk dirimu saja, mengapa tidak meminta untuk dirimu juga?” akhirnya setiap sholat ia pun meminta untuk ibunya dan dirinya juga.

                Akhirnya ayahnya berangkat, tapi tanpa disertai ibunya pada tahun 2008. Hanya saja kebiasaannya mendoakan ibunya telah membuahkan rasa pada hatinya yang juga menggebu untuk segera ke tanah suci. Mulai sejak itu ketika tepat awal-awal ia kuliah, dengan semangat ia membuat celengan dari kertas karton asturo. Ia menabung mulai dari Rp. 50,00, Rp.100, sampai uang ribuan, semampuanya sebagai seorang mahasiswa. Selesai makan siang ada receh ia sisihkan untuk celengan. Jika ada teman yang main ke kosannya kemudian melihat deretan celengan, teman-teman yang merasa aneh minta dijelaskan, kemudian ikut tersentuh dengan keinginannya dan malah ikut menabung di celengan itu bahkan uang yang dimasukan lebih besar dari uang yang biasa ia masukan. Ternyata cerita ia punya celengan haji& umrah sampai ke dosennya, dan dosennya minta bertemu dengan syarat membawa celengan haji & umrah ke kantornya. Ia pergi menemui dosennya, meskipun bingung mengapa harus bawa celengan itu ke kantor. Ketika sampai di kantornya ternyata dosennya berkata, “Bang, saya punya niat di hati ketika mendengar cerita kamu ingin naik haji untuk ikut meramaikan tabunganmu” dosennya memasukan amplop ke dalam celengannya. Abang terkejut ko bisa-bisanya uang dosen sampai ke celengannya.
 
 

Ia pun mulai membuka rekening tabungan haji di Bank Muammalat, setelah celengannya penuh ia pun menghitung uangnya, merapikannya, dan kemudian menyetorkannya ke Bank Muammalat. Saat menabung, ia sering merasa sedih dalam hati. Melihat nasabah lain menabung dengan uang kertas yang jumlahnya besar, ketika ia menabung ia malah mengeluarkan keresek hitam yang lusuh dari tasnya dan yang dikeluarkan dari tasnya bukan uang lembarang Rp. 50.000,00 atau Rp.100.000,00 melainkan uang recehan yang sudah disusun dengan rapi. Ia mengobati  hatinya dengan kalimat, “masa Allah ga kasihan melihat saya ingin ke tanah suci, sampai ngumpulin recehan.” Kegiatan ini berlangsung sampai ia menjelang lulus, dan tenyata ia telah membuka 7 kali sampai lulus kuliah. Ketika kuliah ia bekerja di Pusat Pengembangan Wakaf Daarut Tauhiid Bandung, ia sengaja meminta kepada atasannya jika nanti manasik haji ia ingin bantu-bantu jamaah sembari belajar manasik, tidak dibayar pun tidak apa. Tepat hari itu, hari minggu, para jamaah mengadakan manasik dan berjejer berjalan ke SCAPA angkatan darat daerah dekat Geger Kalong, ia mengikuti dari belakang, kemudian melihat dari kejauhan para jamaah haji bermanasik. Setelah para jamaah haji selesai, ia mendekati ka’bah buatan dan mengitarinya denga perasaan haru dan berdoa serta membayangkan semoga ia pun bisa segera ke tanah suci, bisa punya uang dan ikut manasik seperti orang-orang yang ia lihat di hari itu. Ketika kembali ke camp simulasi tenda mina di daerah pesantren Daarut Tauhiid, ia sengaja meminta ijin agar pembagian brosur ke tiap-tiap tenda harus oleh dirinya, karena ia ingin juga merasakan situasi simulasi tenda mina. Ia kemudian makin rajin membeli buku dan membaca buku-buku haji, membeli poster Makkah, membuat foto dirinya di Makkah dengan rekayasa Adobe Photoshop,  dan ia mendapatkan doa yang kemudian ia istiqamah doakan.

(Q.S. Al-Baqarah [2] : 128)

Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan doa ini ia berharap, semoga Allah menunjukan dengan langsung tempat-tempat ibadah haji, tidak hanya lewat gambar di kertas dan layar kaca saja.
Tahun 2009 tepatnya di masjid Daarut Tauhiid Bandung, ia melihat jamaah haji berpakaian putih hendak berangkat ke tanah suci. Ia menangis saat melihat para tamu Allah bertalbiyah dan berpakaian putih itu berjejer di depan masjid. Ia pun mulai resah dan ingin sesegera mungkin, kemudian salah satu celengannya yang sudah penuh di suatu malam ia bongkar dan semuanya dimasukan ke kotak masjid dengan harapan semoga sedekahnya mempercepat kepergiannya. Tapi ternyata sampai lulus kuliah ia tetap tidak berangkat ke tanah suci.

                Tahun 2011, ia lulus kuliah dan menjadi guru di salah satu sekolah. Anak laki-laki itu masih menyimpan keinginan ke tanah suci. Ia memberikan privat-privat kepada murid-muridnya sampai malam untuk  beberapa murid SMP dan SMA, mengumpulkan uang untuk di tabung sebagai ongkos. Akhirnya tahun 2012 ia mulai kehabisan akal mengumpulkan uang ke tanah suci tidak sampai-sampai, ada saja keperluan lain sehingga uangnya berkurang lagi-berkurang lagi. Kemudian Agustus 2012 ia mengatakan pada murid-muridnya, “Siapapun yang mau privat dari sekarang sampai desember 2012, saya gratiskan tidak usah bayar. Tapi doakan semoga sebelum tahun baru 2013 saya bisa umrah.”  Tahun 2012 itu pun, bulan September ibunya berangkat haji, dan selang 1 minggu lebih ketika di tanah suci ibunya menelpon, “kamu sudah punya tabungan berapa ingin ke tanah suci”, “ada 7 juta mah, kenapa gitu?” jawab Abang. Ibunya kembali merespon, “wah, kirain udah berapa masih jauh itu mah.”Selang beberapa hari, ayahnya menelpon dan anak laki-laki itu menyinggung pembicaraannya dengan ibunya ketika di telpon dengan nada bercanda, “Pa, si mamah belagu kemarin nanya tabungan umrah Abang  sudah berapa, seperti yang mau nambahin aja.” Ayahnya kemudian bertanya penasaran, “memang kamu punya uang berapa?”, “Ya ada 7 juta mah”, jawab Abang. Ayahnya langsung membalas, “oke, kamu balik lebaran haji ini bawa uang tabunganmu, bapak ingin kamu serius, sisanya bapak yang tambah, langsung kamu berangkat umrah.” Anak laki-laki itu cukup kaget bercampur senang, “serius neh?”, “ya iya, serius” jawab ayahnya. Langsung ia bersujud ketika itu di tempat kerjanya, bersyukur bahwa keinginannya selama ini terwujud.
Saudaraku, beberapa doa kita banyak yang segera Allah perkenankan, beberapa amalan langsung Allah balas. Beberapa lagi mungkin tidak segera, tapi PASTI. Jika keajaiban telah menyentuh banyak kehidupan orang lain, mengapa kita pun tidak bisa? Jika Tuhan mereka dan tuhan kita sama, berarti kehidupan kita pun bisa seperti mereka. Hanya masalahnya, apa yang membedakan kehidupan kita dengan mereka yang disentuh oleh keajaiban. Semoga Allah menjaga hati siapa pun yang menceritakan kebaikan dan mendengarnya, agar tidak ada niat selain menunjukan kekuasaan Allah. Semoga tidak ada pintu riya, sombong, prasangka buruk, dan penyakit hati yang lainnnya yang terbuka.

 Murid   : itu kan bapaknya punya uang, kalau saya, bapak saya mana punya uang.
Guru         : Dengarkan ini baik-bak ya, yang memberangkatkan itu Allah bukan bapaknya, atau uangnya. Bukankah banyak orang tua yang bisa memberangkatkan anaknya ke tanah suci, tapi masih belum diberikan keinginan pada hati ayahnya untuk membiayai anaknya. Pun banyak orang yang punya uang pribadi, tapi tidak berangkat. Tugas kita mempersiapkan diri, sebab Allah bilang, bukan uang sebaik-baik bekal itu, melainkan taqwa.

Pengikut